Jangan salah, raja Ahaz bukan salah satu raja yang baik. Memang benar, dalam Yesaya 7 Tuhan menjanjikan kemenangan buat Yehuda meski diancam gabungan tentara Israel dan Aram. Memang benar, jawaban Raja Ahaz terhadap tawaran Yesaya untuk meminta tanda dari Tuhan terdengar begitu rendah hati – ia berkata "Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN." Memang benar, bahwa kedengarannya ia tidak mau merepotkan Tuhan. Tetapi kisah ini tidak menjelaskan seperti apa raja Ahaz sebenarnya.
2 Raja-Raja 16 mencatat siapa sebenarnya raja Ahaz. Menurut catatan itu, raja Ahaz “...tidak melakukan apa yang benar di mata TUHAN, Allahnya, seperti Daud, bapa leluhurnya, tetapi ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel, bahkan dia mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel. Ia mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan dan di atas tempat-tempat yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun.” (2Ra.16:2-4). Dan menghadapi ancaman Israel dan Aram, ia lebih percaya pada kekuatan raja Asyur daripada pada pernyatan Yesaya. Diceritakan ia “...menyuruh utusan-utusan kepada Tiglat-Pileser, raja Asyur, mengatakan: ‘Aku ini hambamu dan anakmu. Majulah dan selamatkanlah aku dari tangan raja Aram dan dari tangan raja Israel, yang telah bangkit menyerang aku.’ Ahas mengambil perak dan emas yang terdapat dalam rumah TUHAN dan dalam perbendaharaan istana raja, dan mengirimnya kepada raja Asyur sebagai persembahan.” (2Ra.16:7-8)
Janji Immanuel – Allah beserta kita – diberikan Tuhan ketika kisah penuh ironi diatas berlangsung.
2 Raja-Raja 16 mencatat siapa sebenarnya raja Ahaz. Menurut catatan itu, raja Ahaz “...tidak melakukan apa yang benar di mata TUHAN, Allahnya, seperti Daud, bapa leluhurnya, tetapi ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel, bahkan dia mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel. Ia mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan dan di atas tempat-tempat yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun.” (2Ra.16:2-4). Dan menghadapi ancaman Israel dan Aram, ia lebih percaya pada kekuatan raja Asyur daripada pada pernyatan Yesaya. Diceritakan ia “...menyuruh utusan-utusan kepada Tiglat-Pileser, raja Asyur, mengatakan: ‘Aku ini hambamu dan anakmu. Majulah dan selamatkanlah aku dari tangan raja Aram dan dari tangan raja Israel, yang telah bangkit menyerang aku.’ Ahas mengambil perak dan emas yang terdapat dalam rumah TUHAN dan dalam perbendaharaan istana raja, dan mengirimnya kepada raja Asyur sebagai persembahan.” (2Ra.16:7-8)
Janji Immanuel – Allah beserta kita – diberikan Tuhan ketika kisah penuh ironi diatas berlangsung.
Ironi yang pertama, adalah bahwa Tuhan tetap menjanjikan pertolongan dan penyertaan pada raja seperti Ahaz dan bangsa seperti Yehuda, yang telah mengabaikan Tuhan dan bahkan dengan rajin berbuat kejahatan. Ironi yang kedua, dihadapan pilihan antara meminta tanda dari Tuhan dan mencari pertolongan yang segera dari raja Asyur, Raja Ahaz memutuskan untuk memilih yang kedua – suatu pilihan yang tampaknya lebih logis dan masuk akal ketimbang mengharapkan pertolongan dari Allah yang bahkan tidak bisa diindera olehnya. Hari ini tidak banyak berbeda dengan waktu itu. Manusia tidak berubah banyak – tetap lebih mudah mempercayai yang kelihatan ketimbang Tuhan.
Namun untungnya Tuhan lebih tidak berubah. Dulu, sekarang, dan sampai kapanpun, Tuhan tidak berubah – kasihnya tetap, kemurahannya tetap, janji penebusannya juga tetap, janji penyertaan dan kehadirannya tidak berubah.
Immanuel – Allah beserta kita. Ada dua pihak yang terlibat dalam janji itu – Allah dan manusia. Allah yang tidak ingkar janji, tidak surut kasih sekalipun kepada manusia seperti raja Ahaz, sekalipun pada manusia seperti anda dan saya. Janji penyertaan tersebut digenapi sepenuhnya didalam Kristus, sang Immanuel sendiri, yang hadir menyertai manusia dan berbagi penderitaan dengan kita. Allah yang menyediakan matahari dan menurunkan hujan bagi manusia yang baik dan jahat. Allah yang menyertai sehingga mereka yang percaya dapat melalui lembah bayang maut menuju kehidupan kekal.
Pihak yang lain adalah “kita”, manusia. Tuhan bersedia memberikan tanda pada Ahaz. Bahkan ketika Ahaz menolak, ia tetap memberikan janji penyertaannya serta menggenapinya. Namun Ahaz lebih menginginkan “penyertaan” raja Asyur. Immanuel – Allah beserta kita. Pertanyaan penting bagi anda dan saya adalah, apakah kita mau disertai Allah? Jawaban sadarnya tentu sangat mudah dan jelas – Ya. Tetapi apakah tindakan kita sehari-hari menunjukkan jawaban yang sama? Mungkin bentuk ketidakpercayaan kita tidak separah Ahaz, atau paling tidak demikian pikir kita. Mungkin tidak semua dari kita sampai mengorbankan perpuluhannya demi bisa membayar kebutuhan sehari-hari (dan puji Tuhan jika tidak ada yang seperti itu). Tetapi sesungguhnya seberapa rela kita membiarkan Tuhan terlibat dalam kehidupan kita? Seberapa tergantung sebenarnya kita pada Tuhan? Saya dengan jujur mengakui, misalnya, bahwa sulit mengatakan secara tulus dan benar-benar berharap “berilah kami makanan kami yang secukupnya” ketika berdoa jika saya tahu benar di dapur saya pasti selalu ada persediaan makanan untuk sebulan. Saya tentu tidak mengatakan bahwa punya persediaan adalah dosa, tetapi saya berharap bahwa iman saya adalah pada Tuhan yang selalu ada, bukan pada persediaan yang selalu ada. Lebih mudah mempercayai semua yang kelihatan, semua yang kita sebut “nyata”. Saya ingin terus berusaha bertanya pada diri saya, apakah rasa damai sejahtera, keyakinan, dan keberanian yang saya tunjukkan dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari dihasilkan oleh keyakinan saya pada janji penyertaan Tuhan, atau sejatinya hanya karena saya tahu bahwa persediaan bantuan disekeliling saya selalu tersedia – entah dalam bentuk uang, barang, orang, keterampilan, lingkungan dan sebagainya.
Dan bagi saya, satu-satunya jalan untuk mengetahuinya adalah dengan berusaha untuk terus bertanya pada diri saya, berusaha untuk tidak mengabaikan Tuhan, berusaha untuk tidak enggan “merepotkan” Tuhan.
Penyair Rilke menulis “...segala sesuatu melantunkan lagu tentang Engkau, hanya saja kita mendengarnya lebih jelas pada waktu-waktu tertentu”. Tuhan selalu hadir. Tuhan selalu menyertai. Tuhan selalu bekerja. Namun tidak jarang beberapa dari kita menginginkan jawaban yang lebih cepat, lebih jelas, lebih masuk akal, sehingga menanti dan memperhatikan kehadiran Tuhan menjadi tampak sangat melelahkan dan membuang-buang waktu. Pakai setiap kesempatan untuk mencari, jangan “sungkan” melibatkan Tuhan.
“think often of God, by day, by night,
in your business, and even in your diversions.
He is always near you and with you. Leave Him not alone.
You would think it rude to leave a friend alone who came to visit you:
why then must God be neglected?
Do not forget Him but think on Him often.
Adore Him continually.
Live and die with Him.
This is the glorious employment of a Christian;
this is our profession.
If we do not know it we must learn it.”
- Bruder Lawrence, biarawan abad ke 17 dari Prancis
“think often of God, by day, by night,
in your business, and even in your diversions.
He is always near you and with you. Leave Him not alone.
You would think it rude to leave a friend alone who came to visit you:
why then must God be neglected?
Do not forget Him but think on Him often.
Adore Him continually.
Live and die with Him.
This is the glorious employment of a Christian;
this is our profession.
If we do not know it we must learn it.”
- Bruder Lawrence, biarawan abad ke 17 dari Prancis
No comments:
Post a Comment