Ada suatu moment dalam hidup saya dimana saya tersenyum lebar-lebar (tapi tetep manis koq..), begitu hepi-nya menerima beberapa batang pensil kayu baru dari Mama. Pensil-pensil kayu itu terlihat begitu bagus dengan cat berwarna-warni di lapisan luarnya. Kado yang simpel plus sangat bermanfaat buat anak SD kala itu di zaman belum populernya pensil mekanik seperti sekarang ini. Saking eman-nya, sampai-sampai ada beberapa batang pensil kayu tersebut yang tak habis terpakai hingga saya duduk di bangku kuliah.
Ingatan ini muncul tepat lima hari setelah pertemuan awal Castor 23 Feb ’07 yang lalu. Saya buru-buru menuliskannya biar nggak kehilangan inspirasi hue..he..he. Yang bikin saya teringat adalah ilustrasi Fountain Pen yang ada di Diary Astor (sudah baca khan?! Diary nya bagus lho). Ilustrasi tersebut hampir nggak mirip dengan ilustrasi pensil kayu yang Papa saya ajarkan.
Ketika saya kecil, Beliau pernah berkata bahwa saya seumpama sebuah pensil kayu. Bersekolah dan belajar adalah seperti proses meraut pensil. Terus diraut supaya runcing alias gak blo-on. Namun semua itu tidak akan ada gunanya tatkala pensil yang runcing itu tak dipakai sebagaimana mestinya. Hasil goresan pensil yang indah di kertas kehidupan saya itulah, yang Beliau harapkan dari menyekolahkan saya.
Seiring saya dewasa, Bapa Surgawi menolong saya memahami lebih dalam ilustrasi pensil kayu dalam kehidupan seorang Kristen. Beginilah kira-kira. Kita semua bagaikan pensil kayu. Keberadaan pensil itu kurang berfaedah bila jatuh ke tangan yang salah. Dipakai menjadi mainan oleh bocah-bocah atau dipakai menjadi tusuk konde oleh nenek-nenek atau sekedar dipakai oleh tukang bakso dan tukang tahu tek yang sering lewat di depan rumah untuk ting..ting..ting.. atau tek..tek..tek . Hanya di tangan Allah saja Sang Pelukis Agung, seniman terhebat lah pensil kayu itu dapat menghasilkan karya-karya yang indah. Kertas kehidupan ini adalah milik-Nya. Dia yang berhak menorehkan semua cerita kehidupan dari awal sampai akhir.
Untuk dapat dipakai, pensil kayu memang harus diraut. “Auw, sakit!” Iya memang sakit tapi tidak sia-sia. Setiap kali pensil dipakai, ada waktunya untuk diraut. Terus demikian hingga pensil kayu yang awalnya panjang makin lama makin pendek dan habis. Begitu pula kita kadang diuji dan ditajamkan. Merasa sakit terluka. Dipakai terus berkarya oleh-Nya sampai habis tutup usia kita.
Macam pensil kayu ada banyak. Coba aja liat di toko stationary Mulai dari kode 8H hingga kode 8E tersedia menurut tingkat kehitaman dan kekerasannya. Ternyata seorang pelukis membutuhkan semuanya. Gradasi warna yang begitu indah dapat dihasilkan oleh perpaduan pensil kayu sehingga lukisan tampak hidup. Tidak ada satu pun yang lebih berguna dibandingkan lainnya. Goresan tebal nan pekat pensil 8E tidak lebih indah daripada goresan tipis nan lembut pensil 8H. Demikianlah kita anak-anak Tuhan dipakai berdampingan berkarya melayani Dia supaya keindahan-Nya nyata dari keunikan setiap kita.
Saya membayangkan melihat lukisan Bapa Surgawi yang baru setengah jadi. Di situ ada goresan pensil saya, goresan pensil Anda, goresan pensil dia. Begitu menawan. Keren banget! Lalu tiba-tiba Bapa mengambil penghapus karet dan menghapus suatu bagian dari kertas itu. “Oh tidak! Jangan! Bapa, itu kan bagian dari goresan pensil aku…hiks” Pasti saya sedih. (Gimana klo yang dihapus itu goresan pensil teman-teman? Sedih khan ya..) Tetapi kemudian saya sadar. Namanya juga pensil, pasti bisa dihapus.
Lukisan yang dihasilkan harus sesuai selera Bapa. Orang tidak akan melihat pameran lukisan lalu bergumam “Wah, bagus sekali goresan dari produk pensil bla..bla..bla..!”, tetapi mereka akan berdecak kagum sambil manggut-manggut melihat nama pelukisnya. Ya! Biarlah nama Bapa saja yang dimuliakan dan dikagumi. Saya mau ikutan tersenyum (lagi-lagi tetep manis, malah tambah manis :p) bahagia sekalipun hanya menjadi goresan yang tak berbekas. Karena saya tahu, di tangan Bapa Surgawi saja saya boleh berkarya.(*)
Ingatan ini muncul tepat lima hari setelah pertemuan awal Castor 23 Feb ’07 yang lalu. Saya buru-buru menuliskannya biar nggak kehilangan inspirasi hue..he..he. Yang bikin saya teringat adalah ilustrasi Fountain Pen yang ada di Diary Astor (sudah baca khan?! Diary nya bagus lho). Ilustrasi tersebut hampir nggak mirip dengan ilustrasi pensil kayu yang Papa saya ajarkan.
Ketika saya kecil, Beliau pernah berkata bahwa saya seumpama sebuah pensil kayu. Bersekolah dan belajar adalah seperti proses meraut pensil. Terus diraut supaya runcing alias gak blo-on. Namun semua itu tidak akan ada gunanya tatkala pensil yang runcing itu tak dipakai sebagaimana mestinya. Hasil goresan pensil yang indah di kertas kehidupan saya itulah, yang Beliau harapkan dari menyekolahkan saya.
Seiring saya dewasa, Bapa Surgawi menolong saya memahami lebih dalam ilustrasi pensil kayu dalam kehidupan seorang Kristen. Beginilah kira-kira. Kita semua bagaikan pensil kayu. Keberadaan pensil itu kurang berfaedah bila jatuh ke tangan yang salah. Dipakai menjadi mainan oleh bocah-bocah atau dipakai menjadi tusuk konde oleh nenek-nenek atau sekedar dipakai oleh tukang bakso dan tukang tahu tek yang sering lewat di depan rumah untuk ting..ting..ting.. atau tek..tek..tek . Hanya di tangan Allah saja Sang Pelukis Agung, seniman terhebat lah pensil kayu itu dapat menghasilkan karya-karya yang indah. Kertas kehidupan ini adalah milik-Nya. Dia yang berhak menorehkan semua cerita kehidupan dari awal sampai akhir.
Untuk dapat dipakai, pensil kayu memang harus diraut. “Auw, sakit!” Iya memang sakit tapi tidak sia-sia. Setiap kali pensil dipakai, ada waktunya untuk diraut. Terus demikian hingga pensil kayu yang awalnya panjang makin lama makin pendek dan habis. Begitu pula kita kadang diuji dan ditajamkan. Merasa sakit terluka. Dipakai terus berkarya oleh-Nya sampai habis tutup usia kita.
Macam pensil kayu ada banyak. Coba aja liat di toko stationary Mulai dari kode 8H hingga kode 8E tersedia menurut tingkat kehitaman dan kekerasannya. Ternyata seorang pelukis membutuhkan semuanya. Gradasi warna yang begitu indah dapat dihasilkan oleh perpaduan pensil kayu sehingga lukisan tampak hidup. Tidak ada satu pun yang lebih berguna dibandingkan lainnya. Goresan tebal nan pekat pensil 8E tidak lebih indah daripada goresan tipis nan lembut pensil 8H. Demikianlah kita anak-anak Tuhan dipakai berdampingan berkarya melayani Dia supaya keindahan-Nya nyata dari keunikan setiap kita.
Saya membayangkan melihat lukisan Bapa Surgawi yang baru setengah jadi. Di situ ada goresan pensil saya, goresan pensil Anda, goresan pensil dia. Begitu menawan. Keren banget! Lalu tiba-tiba Bapa mengambil penghapus karet dan menghapus suatu bagian dari kertas itu. “Oh tidak! Jangan! Bapa, itu kan bagian dari goresan pensil aku…hiks” Pasti saya sedih. (Gimana klo yang dihapus itu goresan pensil teman-teman? Sedih khan ya..) Tetapi kemudian saya sadar. Namanya juga pensil, pasti bisa dihapus.
Lukisan yang dihasilkan harus sesuai selera Bapa. Orang tidak akan melihat pameran lukisan lalu bergumam “Wah, bagus sekali goresan dari produk pensil bla..bla..bla..!”, tetapi mereka akan berdecak kagum sambil manggut-manggut melihat nama pelukisnya. Ya! Biarlah nama Bapa saja yang dimuliakan dan dikagumi. Saya mau ikutan tersenyum (lagi-lagi tetep manis, malah tambah manis :p) bahagia sekalipun hanya menjadi goresan yang tak berbekas. Karena saya tahu, di tangan Bapa Surgawi saja saya boleh berkarya.(*)
No comments:
Post a Comment