Friday, August 3, 2007

Letter to GOD

Dear God, In Sunday School they told us what You do. Who does it when You are on vacation? - Jane

Dear God, I think about You sometimes even when I'm not praying. - Elliot

Dear God, Did You really mean "do unto others as they do unto you?" Because if you did, then I'm going to fix my brother. - Darla

Dear God, I didn't think orange went with purple until I saw the sunset you made on Tuesday. That was cool! - Eugene

Dear God, I read the Bible. What does "begat" mean? Nobody will tell me. - Allison

Dear God, Are you really invisible or is that a trick? - Lucy

Dear God, Is it true my father won't get in Heaven if he uses his bowling words in the house? - Anita

Dear God, Did you mean for the giraffe to look like that or was it an accident? - Norma

Dear God, Instead of letting people die and having to make new ones, why don't You just keep the ones You have now? - Cindy

Dear God, Who draws the lines around countries? - Nan

Dear God, The bad people laughed at Noah - "You made an ark on dry land you fool". But he was smart, he stuck with You. That's what I would do. - Edward

Dear God, I went to this wedding and they kissed right in church. Is that okay? - Neil

Dear God, What does it mean You are a Jealous God? I thought You had everything. - Robert

Dear God, Thank You for the baby brother, but what I prayed for was a puppy. - Joyce

Dear God, Why is Sunday School on Sunday? I thought it was supposed to be our day of rest. - Tom

Are you Jesus??

Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.(1Yohanes 2:6)

Suatu hari ada serombongan pria, berjumlah tujuh orang yang tergabung dalam Full Gospel Bussinesman Fellowship International dari Boston hendak pergi ke suatu tempat untuk mengadakan pertemuan tahunan. Ketujuh pria ini sedang dalam keadaan panik karena mereka sedang ditunggu pesawat yang hendak menuju ke kota di mana pertemuan itu diadakan.
Dari jauh terdengar panggilan agar mereka segera naik ke pesawat,atau mereka akan ditinggal pesawat. Mereka harus menunggu lima jam lagi untuk keberangkatan berikutnya bila mereka ketinggalan pesawat tersebut, sedangkan menunggu pasti adalah pekerjaan yang paling membosankan. Jadi ketika turun dari mobil, ketujuh pria ini berlari sekuat tenaga agar mereka tidak ditinggal pesawat, sementara jarak dari lobby ke ruang tunggu dan ke lapangan pesawat sangat jauh.


Mereka saling berteriak satu sama lain agar berlari lebih kencang lagi supaya segera sampai ke pesawat. Tidak ada tujuan lain dalam benak mereka, selain berlari secepatnya sampai di pesawat dan tidak tertinggal.


Seperti biasa, di bandara Boston banyak sekali orang berjualan, termasuk seorang gadis kecil buta yang berjualan buah di pinggir koridor jalan menuju ke ruang tunggu. Ketika ketujuh pria itu sedang berlari sekencang-kencangnya, tiba-tiba salah satu dari mereka menabrak meja apel milik gadis kecil ini sehingga meja itu terbalik dan susunan apelnya jatuh berantakan ke lantai. Apel itu berserakan di lantai bahkan berguling-guling jauh meninggalkan meja gadis buta yang malang itu.


Sementara itu, tujuh pria itu terus berlari tanpa memperdulikan apa yang sudah terjadi. Mereka berkata, “Cepat, jangan pedulikan, kita akan segera tertinggal!” Mereka benar-benar tidak mau menunggu lima jam berikutnya. Sementara itu gadis buta yang malang itu menangis sambil meraba-raba mencari buah apelnya yang jatuh berserakan. Ia tampak begitu sedih. Sambil menangis ia berkata kepada orang-orang disekitarnya, “Help me! Help me!” Namun tidak ada seorangpun yang tergerak untuk menolongnya.


Namun tiba-tiba salah satu dari tujuh pria tadi, (bukan orang yang menabak meja gadis penjual apel itu), menengok ke belakang dan melihat gadis kecil itu sedang meraba-raba ke lantai sambil menangis, mencari buah apelnya yang berserakan. Tampak tidak seorangpun yang memperdulikan. Di tengah larinya yang kencang tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat gadis tersebut. Sementara ke enam temannya sambil berlari berkata, “Ayo cepat! Kenapa kamu berhenti? Kita akan segera tertinggal!”


Di tengah pergumulannya mau meneruskan perjalanan ini atau berbalik menolong gadis malang itu, akhirnya ia berkata kepada teman-temannya, “Kalian berangkat duluan saja, saya akan menyusul dengan pesawat berikutnya.” Namun teman-temannya mengatakan bahwa pertemuan itu sudah dimulai jika ia harus menunggu lima jam lagi. Tapi sekali lagi ia berkata, “Tidak, kalian berangkat saja duluan, saya akan segera menyusul dengan pesawat berikutnya. Kalian berangkat saja sekarang!”


Akhirnya keenam temannya itu meninggalkan dia. Kemudian ia segera berlari menghampiri gadis kecil itu karena hatinya tidak tahan melihat kesulitan gadis itu. Pria ini kemudian segera membantunya memungut apel-apel itu. Setelah itu dia berkata kepada gadis kecil ini, “Saya minta maaf karena teman saya sudah menabrak meja apel Anda. Saya datang untuk menyusun kembali apel yang berserakan, dan sekarang apel tersebut sudah tersusun seperti semula. Tapi mungkin ada apel yang rusak. Saya tidak tahu berapa harga yang harus saya bayar untuk apel yang rusak itu, tapi terimalah pemberian ini". Kata pria itu sambil mengeluarkan sejumlah uang. Pria itu telah menggantikan jauh lebih besar seandainyapun seluruh apel itu laku terjual. Kemudian sambil menangis dan terharu, si gadis kecil ini berkata, “Are you Jesus?” Are you Jesus, Sir?


Pertanyaannya, kapan terakhir kali kita mendengar kalimat itu di telinga kita? Gadis kecil buta itu hanya tahu dalam hidupnya bahwa orang yang baik itu adalah Yesus. Sebab itu ia bertanya, “Are you Jesus?” Karena baginya hanya orang yang namanya Yesus yang dapat berbuat seperti itu. Mungkin ia tidak kenal bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi ia pernah mendengar bahwa ada Seseorang yang bernama Yesus. Orang itu adalah seorang pribadi yang suka menolong. Yang dapat menangis ketika melihat orang lain menangis.


Seringkali dalam hidup kita, kita sering lupa dengan orang-orang di sekitar kita yang sangat membutuhkan kita. Karena kita hanya terpaku mengejar keinginan kita, impian kita, ambisi pribadi kita atau mungkin target hidup yang sudah kita susun. Dan tidak boleh ada yang menghalangi kita untuk mencapainya. Sehingga kita lupa sebenarnya untuk apa dan untuk siapa kita hidup dan kita lupa siapa diri kita sebenarnya.


Teman, sebagai seseorang yang sudah diberi kepercayaan untuk berada di garis depan pembinaan mahasiswa baru, sudahkah setiap kita hidup dengan mencerminkan Kristus dalam hidup kita? Sebagai seorang pembina, kita akan menjadi saluran kasih Kristus buat para mahasiswa baru dengan berbagai realita kehidupan mereka. Sudahkah dari sekarang kita mampu menjadi saluran berkat buat sekitar kita, gak cuman bagi calon anak tutor kita? Kita memang dituntut oleh sekitar kita untuk menjadi teladan dan jadi berkat, tetapi sesungguhnya, itu bukanlah tuntutan bagi kita, melainkan sesuatu yang harus dimiliki oleh seorang anak Tuhan.


Teman, seringkali dalam hidup kita sehari-hari,kita lalai untuk menampilkan figur Kristus dalam hidup kita, padahal justru seharusnya lewat kita, Kristuslah yang nampak. Bukan berarti kita sengaja menampakkan, tapi biarlah itu menjadi karakter kita, bagian yang tidak terpisahkan dan gaya hidup kita, bukan hal yang bisa dibuat-buat.
(disadur dengan sedikit perubahan dari http://www.renungan.com/isi.php?id=146)

Change Begins Inside

Apakah teman – teman pernah merasakan, bahwa ada beberapa hal yang sangat misterius di alam ini? Bagaimana mungkin seekor ulat yang biasanya kita temui hidup di pohon, dapat menjadi seekor kupu - kupu yang bisa terbang bebas di udara? Bagaimana mungkin seekor ulat berbulu, cukup jelek dan kebanyakan dihindari orang, dapat menjadi seekor kupu – kupu yang mempunyai bulu yang sangat indah dan membuat banyak orang sangat kagum dengan keindahan kombinasi atau corak pada sayap kupu – kupu itu? Bagaimana mungkin seekor ulat yang bisa merusak pohon yang indah dengan “melucuti” daun pada pohon itu, dapat menjadi seekor kupu – kupu yang sangat elok ketika hinggap di daun bunga mekar tanpa “melucutinya”.

Saya tidak pernah mengamati secara langsung suatu proses seekor ulat berubah menjadi seekor kupu – kupu yang begitu misterius, bagi saya yang belum pernah melihat prosesnya, mendengar istilahnya saja waktu SMP yaitu metamorfosis (morph), sudah membuat saya membayangkan bagaimana indahnya proses seekor ulat berubah menjadi kupu – kupu yang sangat cantik! Hal tersebut menunjukkan besarnya suatu anugerah yang diberikan Allah melalui kreatifitas seni-Nya dalam kehidupan alam kita. Bagaimana dengan teman – teman apakah kalian pernah melihat secara langsung proses perubahan seekor ulat menjadi seekor kupu – kupu yang elok? Tentunya pasti terbersit pertanyaan di dalam hati teman – teman, apa maksud dan rencana Allah merubah seekor ulat menjadi seekor kupu – kupu? Saya pun pernah berpikir bahwa bisakah saya ber- “metamorfosis”, berubah yang seperti apa ya? Dan menjadi apa ya?

Muncul dari ingatan saya, ketika saya masih kanak – kanak yang aktif di sekolah minggu. Saya suka sekali menonton film sepulang dari sekolah minggu. Suatu film yang ditayangkan di televisi yang juga menjadi salah satu film kesayangan teman – teman waktu kecil adalah acara yang menampilkan sekelompok pahlawan remaja super yang disebut Mighty Morphin Power Rangers. Yang menjadi daya tarik film ini adalah kemampuan tokoh – tokohnya untuk ‘Morph’. ( kata ‘Morphin’ disini tidak ada hubungannya dengan ‘morfin’ obat terlarang ). Tokoh – tokoh dalam film ini adalah seorang biasa ( remaja biasa ), tetapi ketika mereka dibutuhkan, mereka akan berubah menjadi pahlawan super untuk membela keadilan. Teriakan mereka yang membentuk ciri khas sendiri adalah “Waktunya morphing!”, waktunya berubah, dan mereka akan mengalami suatu transformasi dengan melakukan hal – hal yang luar biasa.

Tentu saja, bukan cuma anak berumur enam tahun yang ingin morph. Keinginan untuk transformasi tersembunyi dalam setiap lubuk hati manusia. Dan kemungkinan untuk berubah adalah inti harapan. Ajakan Yesus pada Zakheus (Lukas 19) yang membuat hati zakheus tergerak untuk melakukan suatu perubahan yang dimulai dari dalam dirinya “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”, ini merupakan suatu contoh bahwa Yesus mempunyai pengaruh dalam membawa perubahan dalam diri Zakheus, boleh dikatakan bahwa siapakah Yesus? Yesus adalah anak Allah, kenapa Dia mau bergaul orang seperti Zakheus si pemungut cukai. Yesus mengetahui isi lubuk hati setiap orang yang mau mengalami perubahan yang di mulai dari dalam dirinya. Hal yang tidak mudah juga bagi Yesus untuk bergaul dengan seorang pemungut cukai, Yesus harus menanggung resiko ketika Dia bergaul dengan Zakheus. Semua orang bersungut – sungut dan berkata “Ia mau tingal di rumah orang berdosa.” Disini terlihat bahwa ketika kita membawa orang untuk sadar, inilah waktunya untuk melakukan perubahan dalam dirinya, juga menimbulkan resiko yang harus kita terima. Selain itu keberadaan Yesus dan Zakheus bukan lagi seperti orang yang baru kenal atau seperti tuan dengan seorang hamba, tetapi Yesus menganggap Zakheus adalah seorang partner yang dapat memberikan dampak bagi orang lain untuk berubah. Orang lain dapat melihat perubahan yang terjadi ketika Zakheus mengenal Yesus, ada suatu pengorbanan dalam dirinya ketika Zakheus ingin berubah dengan cara mengembalikan empat kali lipat dari hasil memeras banyak orang saat itu. Paulus berkata kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia di sekeliling kita tapi “berubah oleh pembaharuan budimu.”

Ketika perubahan terjadi, saya bukan hanya melakukan sesuatu seperti yang dilakukan Yesus; saya akan menemukan diri saya ingin melakukan itu. Perbuatan itu menarik bagi saya, masuk akal bagi saya. Saya bukan hanya berusaha melakukan apa yang benar; saya menjadi orang yang benar itu.

Seringkali ketika kita menyandang attribute bahwa kita sebagai astor dan sebagai mahasiswa, kita seringkali juga memposisikan diri kita sedang memakai “topeng”. Dengan kata lain kita tidak pernah berubah dari dalam diri kita, dan tidak menyadari bahwa ketika metamorfosis diri itu terjadi, sebenarnya kita sedang memberikan dampak bagi teman – teman mahasiswa lain. Terasa senang sekali ketika kita punya 2 “topeng”, sebagai astor kita dilihat sebagai manusia yang rohani, tetapi sebagai mahasiswa biasa kita dilihat sebagai manusia yang tidak rohani. Kerapkali secara tidak langsung ketika kita mulai bergaul dengan teman –teman mahasiswa lain, kita melepaskan dan meninggalkan “topeng1” dan kita memakai “topeng2”, begitu sebaliknya. Konsistensi ingin mengalami suatu perubahan yang dimulai dari dalam diri kita inilah yang kita perlukan supaya kita memberikan dampak dan pengaruh terhadap teman kita untuk berubah.

Sekali lagi, ketika kita ingin mengalami perubahan dari dalam dalam diri kita, hendaknya kita tidak memakai dua “topeng” tetapi memakai satu ”topeng” yang bisa kita pertanggungjawabkan. Seperti seekor ulat ketika berubah menjadi seekor kupu – kupu, apakah seekor ulat memakai topeng seekor kupu – kupu untuk menjadi seekor kupu – kupu? Tidak! Ia berubah secara keseluruhan dari dalam menjadi seekor kupu – kupu yang elok dan bisa terbang bebas.

Nah teman – teman, saat ini kalian sebagai calon astor yang dipersiapkan untuk pelayanan tutorial etika, pasti memiliki kekuatiran dalam hati. Kekuatiran itu banyak timbul karena terlalu banyak hal dalam diri kita yang seringkali kita rasa kurang. Nah inilah waktunya teman – teman mulai menyadari bahwa diperlukan banyak pembekalan (PPH dan PKV, Persekutuan Doa, KTB Pembekalan materi) untuk melengkapi kalian yang ingin morph.

Satu kegiatan di bulan Juni bertema “Chance begins inside” adalah Camp Astor 2007. Harapan dan tujuan yang tersimpan disini adalah mengajak teman – teman tahu bahwa pelayanan ini adalah pelayanan kita bersama yang bisa memberikan pengaruh dan dampak bagi teman – teman mahasiswa baru untuk meraih hidup yang berhasil dan bermakna. Jangan pernah kuatir, karena Allah selalu senantiasa menyertai kita dalam berproses.


Referensi :
- John Ortberg, The Life You’ve Always Wanted.
- Jerry Bridges, The Discipline of Grace.

Goresan tak berbekas

Ada suatu moment dalam hidup saya dimana saya tersenyum lebar-lebar (tapi tetep manis koq..), begitu hepi-nya menerima beberapa batang pensil kayu baru dari Mama. Pensil-pensil kayu itu terlihat begitu bagus dengan cat berwarna-warni di lapisan luarnya. Kado yang simpel plus sangat bermanfaat buat anak SD kala itu di zaman belum populernya pensil mekanik seperti sekarang ini. Saking eman-nya, sampai-sampai ada beberapa batang pensil kayu tersebut yang tak habis terpakai hingga saya duduk di bangku kuliah.

Ingatan ini muncul tepat lima hari setelah pertemuan awal Castor 23 Feb ’07 yang lalu. Saya buru-buru menuliskannya biar nggak kehilangan inspirasi hue..he..he. Yang bikin saya teringat adalah ilustrasi Fountain Pen yang ada di Diary Astor (sudah baca khan?! Diary nya bagus lho). Ilustrasi tersebut hampir nggak mirip dengan ilustrasi pensil kayu yang Papa saya ajarkan.

Ketika saya kecil, Beliau pernah berkata bahwa saya seumpama sebuah pensil kayu. Bersekolah dan belajar adalah seperti proses meraut pensil. Terus diraut supaya runcing alias gak blo-on. Namun semua itu tidak akan ada gunanya tatkala pensil yang runcing itu tak dipakai sebagaimana mestinya. Hasil goresan pensil yang indah di kertas kehidupan saya itulah, yang Beliau harapkan dari menyekolahkan saya.

Seiring saya dewasa, Bapa Surgawi menolong saya memahami lebih dalam ilustrasi pensil kayu dalam kehidupan seorang Kristen. Beginilah kira-kira. Kita semua bagaikan pensil kayu. Keberadaan pensil itu kurang berfaedah bila jatuh ke tangan yang salah. Dipakai menjadi mainan oleh bocah-bocah atau dipakai menjadi tusuk konde oleh nenek-nenek atau sekedar dipakai oleh tukang bakso dan tukang tahu tek yang sering lewat di depan rumah untuk ting..ting..ting.. atau tek..tek..tek . Hanya di tangan Allah saja Sang Pelukis Agung, seniman terhebat lah pensil kayu itu dapat menghasilkan karya-karya yang indah. Kertas kehidupan ini adalah milik-Nya. Dia yang berhak menorehkan semua cerita kehidupan dari awal sampai akhir.

Untuk dapat dipakai, pensil kayu memang harus diraut. “Auw, sakit!” Iya memang sakit tapi tidak sia-sia. Setiap kali pensil dipakai, ada waktunya untuk diraut. Terus demikian hingga pensil kayu yang awalnya panjang makin lama makin pendek dan habis. Begitu pula kita kadang diuji dan ditajamkan. Merasa sakit terluka. Dipakai terus berkarya oleh-Nya sampai habis tutup usia kita.

Macam pensil kayu ada banyak. Coba aja liat di toko stationary Mulai dari kode 8H hingga kode 8E tersedia menurut tingkat kehitaman dan kekerasannya. Ternyata seorang pelukis membutuhkan semuanya. Gradasi warna yang begitu indah dapat dihasilkan oleh perpaduan pensil kayu sehingga lukisan tampak hidup. Tidak ada satu pun yang lebih berguna dibandingkan lainnya. Goresan tebal nan pekat pensil 8E tidak lebih indah daripada goresan tipis nan lembut pensil 8H. Demikianlah kita anak-anak Tuhan dipakai berdampingan berkarya melayani Dia supaya keindahan-Nya nyata dari keunikan setiap kita.

Saya membayangkan melihat lukisan Bapa Surgawi yang baru setengah jadi. Di situ ada goresan pensil saya, goresan pensil Anda, goresan pensil dia. Begitu menawan. Keren banget! Lalu tiba-tiba Bapa mengambil penghapus karet dan menghapus suatu bagian dari kertas itu. “Oh tidak! Jangan! Bapa, itu kan bagian dari goresan pensil aku…hiks” Pasti saya sedih. (Gimana klo yang dihapus itu goresan pensil teman-teman? Sedih khan ya..) Tetapi kemudian saya sadar. Namanya juga pensil, pasti bisa dihapus.

Lukisan yang dihasilkan harus sesuai selera Bapa. Orang tidak akan melihat pameran lukisan lalu bergumam “Wah, bagus sekali goresan dari produk pensil bla..bla..bla..!”, tetapi mereka akan berdecak kagum sambil manggut-manggut melihat nama pelukisnya. Ya! Biarlah nama Bapa saja yang dimuliakan dan dikagumi. Saya mau ikutan tersenyum (lagi-lagi tetep manis, malah tambah manis :p) bahagia sekalipun hanya menjadi goresan yang tak berbekas. Karena saya tahu, di tangan Bapa Surgawi saja saya boleh berkarya.(*)

Asyiknya Memancing

“Pergi memancing yuk!” pinta Moses kepada kakaknya. “Kok tumben, ada apa sih?” tanya si kakak sambil melirik ke arah Moses yang sedang kegirangan. “Haha, iya kak, kita khan tau kalau Bapak tuh seneng banget makan ikan. Nah, Moses pingin ngasih Bapak kejutan ikan dari hasil tangkapan Moses sendiri. Kakak mau ngebantuin khan?” rengek Moses dengan wajah agak memelas. Akhirnya si Kakak pun setuju melihat keinginan adiknya yang tulus. “Besok” jawabnya singkat.

Keesokan hari pagi-pagi benar, si Kakak membangunkan Moses. “Masih ngantuk kak!” teriak Moses. “Ayo bangun! Kita perlu mempersiapkan semuanya. Pergi ke pasar dulu untuk beli jangkrik (umpan ikan), ngambil pancingan di gudang, lalu…lho, kok masih duduk di situ? Ayo cepetan mandi, habis itu jangan lupa bawa topi biar nggak kepanasan dan siapkan lotion anti nyamuk biar nggak digigiti nyamuk.” ujar si Kakak seraya mendorong Moses ke kamar mandi.

Sembari duduk di toilet (eh..ngapain ya), Moses berceloteh, “Aduh, mancing ikan aja kok repot betul, harus bangun pagi, jalan ke pasar, kepanasan, apalagi berurusan dengan serangga yang notabene aku paling benci. Hii..jijik! Tapi, ah tak apo-apo lah, semua ini kulakukan demi Bapak tercinta..La..la..la..” Moses benyanyi dan bersiul-siul menikmati segarnya air mengaliri tubuhnya.

Tiba-tiba ia terdiam. Ada sesuatu yang melintas di kepalanya tanpa diundang. Langsung menerobos masuk ke ruang VVIP ingatannya. Dia berusaha keras mengernyitkan dahi dan “Aha! Suara Penabur edisi pertama artikel tentang memancing!”

(Oh..Moses itu Astor juga to!)

Agaknya kini Moses mulai mengerti sesuatu. Menjala Mahasiswa Baru hampir sama dengan memancing ikan. Perlu persiapan. Banyak tantangan. Menghadiahkan ikan untuk Bapak hampir sama dengan membawa Mahasiswa Baru kepada Bapa di surga. Penuh kerelaan. Limpah sukacita. “Moses! Lama sekali kau! Ntar kita kesiangan!” teriak si Kakak tepat di balik pintu kamar mandi. “Aduh, iya-iya sebentar lagi.” Dengan tergopoh-gopoh mengeringkan badan, Moses masih sempat berjanji dalam hati, “Bapa, Moses mau belajar sebaik-baiknya mempersiapkan diri jadi Astor. Moses nggak akan lagi bersungut-sungut dengan banyaknya pembekalan Astor. Moses tau itu semua baik juga buat Moses. Tolongin Moses ya Bapa. Amin. Eh, satu lagi Bapa! Moses minta diberkati supaya dapat ikan buat Bapak hari ini. Makasih Bapa...” (*)

Imannuel

Jangan salah, raja Ahaz bukan salah satu raja yang baik. Memang benar, dalam Yesaya 7 Tuhan menjanjikan kemenangan buat Yehuda meski diancam gabungan tentara Israel dan Aram. Memang benar, jawaban Raja Ahaz terhadap tawaran Yesaya untuk meminta tanda dari Tuhan terdengar begitu rendah hati – ia berkata "Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN." Memang benar, bahwa kedengarannya ia tidak mau merepotkan Tuhan. Tetapi kisah ini tidak menjelaskan seperti apa raja Ahaz sebenarnya.

2 Raja-Raja 16 mencatat siapa sebenarnya raja Ahaz. Menurut catatan itu, raja Ahaz “...tidak melakukan apa yang benar di mata TUHAN, Allahnya, seperti Daud, bapa leluhurnya, tetapi ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel, bahkan dia mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel. Ia mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan dan di atas tempat-tempat yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun.” (2Ra.16:2-4). Dan menghadapi ancaman Israel dan Aram, ia lebih percaya pada kekuatan raja Asyur daripada pada pernyatan Yesaya. Diceritakan ia “...menyuruh utusan-utusan kepada Tiglat-Pileser, raja Asyur, mengatakan: ‘Aku ini hambamu dan anakmu. Majulah dan selamatkanlah aku dari tangan raja Aram dan dari tangan raja Israel, yang telah bangkit menyerang aku.’ Ahas mengambil perak dan emas yang terdapat dalam rumah TUHAN dan dalam perbendaharaan istana raja, dan mengirimnya kepada raja Asyur sebagai persembahan.” (2Ra.16:7-8)
Janji Immanuel – Allah beserta kita – diberikan Tuhan ketika kisah penuh ironi diatas berlangsung.

Ironi yang pertama, adalah bahwa Tuhan tetap menjanjikan pertolongan dan penyertaan pada raja seperti Ahaz dan bangsa seperti Yehuda, yang telah mengabaikan Tuhan dan bahkan dengan rajin berbuat kejahatan. Ironi yang kedua, dihadapan pilihan antara meminta tanda dari Tuhan dan mencari pertolongan yang segera dari raja Asyur, Raja Ahaz memutuskan untuk memilih yang kedua – suatu pilihan yang tampaknya lebih logis dan masuk akal ketimbang mengharapkan pertolongan dari Allah yang bahkan tidak bisa diindera olehnya. Hari ini tidak banyak berbeda dengan waktu itu. Manusia tidak berubah banyak – tetap lebih mudah mempercayai yang kelihatan ketimbang Tuhan.

Namun untungnya Tuhan lebih tidak berubah. Dulu, sekarang, dan sampai kapanpun, Tuhan tidak berubah – kasihnya tetap, kemurahannya tetap, janji penebusannya juga tetap, janji penyertaan dan kehadirannya tidak berubah.

Immanuel – Allah beserta kita. Ada dua pihak yang terlibat dalam janji itu – Allah dan manusia. Allah yang tidak ingkar janji, tidak surut kasih sekalipun kepada manusia seperti raja Ahaz, sekalipun pada manusia seperti anda dan saya. Janji penyertaan tersebut digenapi sepenuhnya didalam Kristus, sang Immanuel sendiri, yang hadir menyertai manusia dan berbagi penderitaan dengan kita. Allah yang menyediakan matahari dan menurunkan hujan bagi manusia yang baik dan jahat. Allah yang menyertai sehingga mereka yang percaya dapat melalui lembah bayang maut menuju kehidupan kekal.

Pihak yang lain adalah “kita”, manusia. Tuhan bersedia memberikan tanda pada Ahaz. Bahkan ketika Ahaz menolak, ia tetap memberikan janji penyertaannya serta menggenapinya. Namun Ahaz lebih menginginkan “penyertaan” raja Asyur. Immanuel – Allah beserta kita. Pertanyaan penting bagi anda dan saya adalah, apakah kita mau disertai Allah? Jawaban sadarnya tentu sangat mudah dan jelas – Ya. Tetapi apakah tindakan kita sehari-hari menunjukkan jawaban yang sama? Mungkin bentuk ketidakpercayaan kita tidak separah Ahaz, atau paling tidak demikian pikir kita. Mungkin tidak semua dari kita sampai mengorbankan perpuluhannya demi bisa membayar kebutuhan sehari-hari (dan puji Tuhan jika tidak ada yang seperti itu). Tetapi sesungguhnya seberapa rela kita membiarkan Tuhan terlibat dalam kehidupan kita? Seberapa tergantung sebenarnya kita pada Tuhan? Saya dengan jujur mengakui, misalnya, bahwa sulit mengatakan secara tulus dan benar-benar berharap “berilah kami makanan kami yang secukupnya” ketika berdoa jika saya tahu benar di dapur saya pasti selalu ada persediaan makanan untuk sebulan. Saya tentu tidak mengatakan bahwa punya persediaan adalah dosa, tetapi saya berharap bahwa iman saya adalah pada Tuhan yang selalu ada, bukan pada persediaan yang selalu ada. Lebih mudah mempercayai semua yang kelihatan, semua yang kita sebut “nyata”. Saya ingin terus berusaha bertanya pada diri saya, apakah rasa damai sejahtera, keyakinan, dan keberanian yang saya tunjukkan dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari dihasilkan oleh keyakinan saya pada janji penyertaan Tuhan, atau sejatinya hanya karena saya tahu bahwa persediaan bantuan disekeliling saya selalu tersedia – entah dalam bentuk uang, barang, orang, keterampilan, lingkungan dan sebagainya.

Dan bagi saya, satu-satunya jalan untuk mengetahuinya adalah dengan berusaha untuk terus bertanya pada diri saya, berusaha untuk tidak mengabaikan Tuhan, berusaha untuk tidak enggan “merepotkan” Tuhan.

Penyair Rilke menulis “...segala sesuatu melantunkan lagu tentang Engkau, hanya saja kita mendengarnya lebih jelas pada waktu-waktu tertentu”. Tuhan selalu hadir. Tuhan selalu menyertai. Tuhan selalu bekerja. Namun tidak jarang beberapa dari kita menginginkan jawaban yang lebih cepat, lebih jelas, lebih masuk akal, sehingga menanti dan memperhatikan kehadiran Tuhan menjadi tampak sangat melelahkan dan membuang-buang waktu. Pakai setiap kesempatan untuk mencari, jangan “sungkan” melibatkan Tuhan.

“think often of God, by day, by night,
in your business, and even in your diversions.
He is always near you and with you. Leave Him not alone.
You would think it rude to leave a friend alone who came to visit you:
why then must God be neglected?
Do not forget Him but think on Him often.
Adore Him continually.
Live and die with Him.
This is the glorious employment of a Christian;
this is our profession.
If we do not know it we must learn it.”

- Bruder Lawrence, biarawan abad ke 17 dari Prancis